Thursday , 21 September 2017
Breaking News
Home » Berita » Vjesalica, Dari Bandung Menuju Internasional

Vjesalica, Dari Bandung Menuju Internasional

DSC_0926 (1)

VJESALICA – YOUR FUTURE FURNITURE

Industri kreatif merupakan ranah yang sedang diperjuangkan anak muda agar mereka dapat menjadi tokoh utama dalam dunia tersebut. Dan furniture merupakan salah satu sub-bidang dari industri kreatif. Potensi bisnis pada bidang furniture pun dapat dibilang cukup besar karena selain di dalam negeri, di luar negeri pun furniture sangat diminati banyak orang, terlebih apabila produk tersebut memiliki keunikan sendiri. Faktor itulah yang dilihat oleh kedua finalis GBMC (Garudapreneur Business Model Canvas) Fitri Amalia Ramadini (2012) dan Matheus Manulong (2013) yang merupakan perwakilan dari Universitas Katolik Parahyangan dengan membawa nama tim yang sesuai dengan produk yang dipasarkan, yaitu Vjesalica Your Future Furniture”. Lalu bagaimana perjalanan mereka sehingga dapat lolos masuk babak sembilan besar kompetisi GBMC ini?

GBMC (Garudapreneur Business Model Canvas) merupakan salah satu lomba yang disponsori oleh pihak swasta yang bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dalam melaksanakan IBF atau dapat disebut IPB Business Festival. Pada awalnya tim Vjesalica Furniture mengalami beberapa kendala seperti lambatnya mengetahui informasi mengenai adanya lomba tersebut, waktu pemenuhan persyaratan yang relatif singkat, kemampuan kreativitas dan masalah kesehatan dikarenakan keterbatasan fisik yg diforsir selama beberapa hari untuk dapat menyelesaikan persyaratan-persyaratan tersebut. Dan beginilah awal kisahnya…

“Pada saat itu, tanggal 9 Agustus 2015 merupakan batas terakhir untuk mengumpulkan persyaratan lomba GBMC. Sedangkan kami baru dikabari dan dipasangkan oleh Pak Dianta dua minggu sebelumnya, karena pada awalnya Vjesalica merupakan bisnis saya pribadi untuk memenuhi syarat akhir dari tugas proprosal bisnis. Dan kami hanya memiliki sekitar satu minggu sebelum deadline untuk dapat fokus memenuhi beberapa persyaratan tersebut. Melihat tanggal yang sudah semakin dekat dan persyaratan yang begitu kompleks membuat kami pesimis menghadapi lomba ini. Namun dengan kerja keras, kreativitas, dan melihat dukungan yang begitu besar dari ketua program studi yaitu ibu Elvy Maria, membuat kami semakin mantap menyelesaikan semua tugas yang telah ditargetkan, belum lagi melihat Ibu Lilian Danil selaku mentor yang sedang mengandung namun tetap setia mendampingi, dan Bapak Dianta Hasri yang rela ‘lembur’ hingga pukul satu pagi demi membimbing kami untuk mencapai hasil maksimal dengan kapasitas terbatas pada saat itu. Sehingga membuat kami berpikir untuk ‘tidak setengah-setengah’ dalam mengikuti lomba tersebut.” Begitu ujar Fitri yang ditemui beberapa hari lalu usai mengikuti UTS.

“Kami (Fitri dan Matheus), rutin bertemu selama satu minggu, dan dalam waktu satu minggu tersebut, kami mulai dari pukul delapan pagi hingga larut malam, bahkan kadang hingga hari menjelang pagi. Jadi saya baru tiba dirumah sekitar pukul satu pagi. Setelah merasakan lelah dengan rutinitas tersebut, dan agar waktu yang digunakan efektif, kami sepakat membuat strategi untuk berbagi tugas, tugas Fitri adalah membuat video dan power point sedangkan tugas saya membuat proposal. Dari kerjasama dan strategi tersebutlah akhirnya kami dapat menyelesaikan semua persyaratan hingga dapat masuk babak sembilan besar ini” Sanggah Matheus sembari melengkapi kisah yang diceritakan Fitri tadi.