Jurus Jitu Bisnis Masa Kini

Dunia bisnis adalah sebuah hal yang paling dinamis. Sebab, merepresentasikan perilaku manusia secara luas. Dari kebutuhan, gaya hidup, penghasilan, tren, sampai dengan persepsi atas optimisme masyarakat dapat kita lihat dari pergerakan dunia bisnis.

Pendekatan pada konsumen merupakan hal  yang sangat esensial karena pendekatan yang efektif tentu saja akan meningkatkan penjualan dan memperkuat keunggulan bersaing sebuah brand atau bisnis. Dalam beberapa waktu, pemasaran mengalami pendekatan yang berubah-ubah. Pemasar bertujuan menyesuaikan metode pendekatan yang relevan dengan keinginan konsumen mereka.

Secara garis besar, terdapat tiga pendekatan kepada konsumen. Pertama, focus on product. Saat revolusi industri di Inggris awal abad ke-19 dimulai, dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt, industri mengalami perubahan yang luar biasa. Pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh tenaga manusia sedikit banyak diambil alih mesin sehingga produktivitas meningkat.

Namun meningkatnya produktivitas belum dibarengi dengan kustomisasi dan diferensiasi produk yang kuat sehingga apa yang dibuat pabrik menjadi pilihan tunggal di pasar. “Sebagai contoh yang terjadi pada Ford. Saat itu, mereka menjual mobil tipe T (antara 1908-1928), yakni mereka hanya menjual satu tipe warna, yaitu hitam,” ucap praktisi dan dosen DIII Manajemen Perusahaan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Dianta Hasri Barus ST.,MM.

Dianta juga mengatakan ketidakmampuan brand memberikan pilihan atau diferensiasi ini yang membuat pendekatan ke konsumen saat itu adalah fokus kepada produk, baik dari segi fungsi maupun kebutuhan. “Belum melihat ekspektasi atau keinginan pasar yang berbeda-beda,” katanya.

Selanjutnya, focus to consumers. Sekarang adalah era teknologi “www” digunakan dalam dunia bisnis sejak tahun 90an hingga 2000an awal. Dunia mulai beralih ke dunia digital sehingga menciptakan efisiensi dan jangkauan luas dalam berkomunikasi sekaligus secara spesifik menawarkan produk.

Dianta mengatakan, “Konsumen semakin kritis mencari tahu dan membandingkan produk yang akan mereka beli serta produk atau brand mulai fokus pada keunikan produk untuk segmentasi konsumen yang berbeda-beda.” Sehingga pendekatan keunggulan produk saja tidak cukup, tapi sebuah brand juga berfokus pada keinginan serta kebutuhan konsumen.

Konsumen yang semakin kritis itu pula merangsang pendekatan yang berbeda. Bisnis saat ini tidak cukup hanya menciptakan produk yang sesuai dengan ekspektasi konsumen, namun lebih jauh berkolaborasi dengan konsumen untuk menciptakan produk maupun layanan guna meningkatkan engagement atau hubungan jangka panjang antara brand dan konsumen.

Kolaborasi tersebut dapat berupa kolaborasi desain produk atau layanan, penyebaran isu sosial (brand campaign), serta kegiatan-kegiatan, seperti komunitas yang didesain secara unik untuk target pasar mereka.

“Dari yang berfokus pada produk atau layanan (“kami”) menjadi berfokus pada kolaborasi dengan konsumen (“kita”),” ujarnya.

Dianta menjelaskan, terdapat beberapa poin utama dalam meningkatkan unsur kolaborasi dengan konsumen, yaitu kolaborasi yang dilakukan harus berujung pada peningkatan dari value yang akan dirasakan brand tersebut dan tentu saja konsumen. “Bila tidak, itu hanya akan dirasakan sebagai promosi biasa untuk meningkatkan penjualan di jangka pendek saja.”

Selanjutnya, kolaborasi harus relevan dengan karakteristik brand. Selain itu, kolaborasi yang bersifat tematik berjangka waktu. Jangan terlalu lama sehingga tidak mencapai klimaks, namun jangan terlalu cepat karena akan mengaburkan maksud kolaborasi yang bertujuan untuk engagement yang lebih tinggi.

“Selera konsumen akan selalu berubah sehingga berkolaborasi adalah salah satu cara kita untuk tetap keep in touch dengan mereka dan menciptakan hubungan jangka panjang,” ucapnya.

Sumber: Koran Tempo (Senin, 31 Juli 2017)